Back

Kemal Jufri: Merekam Sejarah Indonesia Lewat Lensa yang Nyaris Tak Pernah Ia Cari

Beberapa fotografer besar justru tidak pernah merencanakan jadi fotografer. Kemal Jufri salah satunya. Ia lahir di Indonesia pada 1974. Waktu kecil, ia hanya ingin berkarier di dunia seni. Ia tertarik pada desain, seni visual, dan arsitektur. Fotografi sama sekali tidak masuk rencana.

Kemal bahkan tidak suka hal-hal teknis. Ia malas mempelajari mekanisme kamera. “Kamera kan berkesan rumit,” katanya suatu kali. Ayahnya, wartawan senior Fikri Jufri, tidak pernah menuntutnya mengikuti jejak jurnalistik. Justru dari titik yang jauh dari cita-cita awal itu, Kemal tumbuh menjadi salah satu fotografer dokumenter Indonesia paling diakui dunia. Karya-karya lengkapnya bisa dilihat langsung di portfolio resminya di Panos Pictures.

Filosofi: Berada di Tempat yang Tepat, Saat Sejarah Sedang Terjadi

Kemal memulai karier fotografi profesionalnya pada 1996. Ia bergabung sebagai fotografer kontrak di biro Agence France-Presse (AFP) Jakarta. Dua tahun kemudian ia pindah ke majalah Asiaweek sebagai kontributor, sampai majalah itu tutup pada 2001. Sejak itu ia bekerja lepas. Ia meliput berbagai kejadian di Asia Tenggara untuk publikasi internasional besar seperti TIME, Newsweek, The New York Times, dan Der Spiegel.

Rentang waktu ini membawanya ke tengah momen-momen paling menentukan dalam sejarah modern Indonesia. Ia mendokumentasikan gerakan reformasi berdarah yang menumbangkan Presiden Soeharto. Ia juga meliput kekerasan pasca-referendum di Timor Timur, serta berbagai konflik etnis di berbagai wilayah. Filosofi kerja Kemal sederhana namun berat dijalani: hadir secara fisik di titik paling krusial sebuah peristiwa, lalu merekamnya dengan jujur.

Cara kerja ini sejalan dengan semangat proyek dokumenter jangka panjang seperti The Living Archive. Nilai sebuah foto sejarah bukan datang dari efek visualnya semata, melainkan dari kehadiran fotografer di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.

Teknik: Ketekunan di Lapangan Bencana

Salah satu pencapaian besar Kemal datang dari liputan letusan Gunung Merapi. Letusan besar terjadi di akhir Oktober 2010. Gunung itu memuntahkan batu panas dan abu vulkanik hingga ketinggian satu setengah kilometer. Beberapa hari kemudian, letusan yang lebih besar menyusul. Awan panas dengan suhu mencapai 1.000°C menyapu desa-desa di sekitarnya.

Kemal berada di lokasi untuk mendokumentasikan bencana ini secara mendalam. Seri fotonya membawanya meraih posisi runner-up di World Press Photo 2011, kategori People in the News Stories. Karya ini juga menjadi bahan kajian akademik tentang makna denotasi dan konotasi dalam foto jurnalistik bencana.

Dari pendekatan Kemal di lapangan bencana, ada beberapa pelajaran teknis yang bisa diambil:

  • Datang lebih awal dan bertahan lebih lama. Kemal tidak hanya memotret ledakan awal, tapi terus berada di lokasi saat letusan susulan yang justru lebih mematikan terjadi.
  • Cari kedekatan dengan risiko yang terukur. Foto-foto kuatnya lahir dari jarak dekat dengan bahaya nyata, bukan dari sudut aman yang jauh.
  • Rekam proses, bukan cuma puncak kejadian. Seri fotonya menangkap rentang waktu, bukan satu momen dramatis tunggal — pendekatan yang membuat cerita visualnya terasa utuh.

Warisan: Pengakuan Dunia untuk Cerita Indonesia

Penghargaan Kemal tidak berhenti di Merapi. Pada 1999, ia meraih Award of Excellence dari Picture of the Year di Amerika Serikat — penghargaan yang setara reputasinya dengan World Press Photo. Karyanya juga tampil di Getty Images, dan salah satu pameran tunggalnya, “Aftermath: Indonesia in Midst of Catastrophes” di galeri Salihara, didokumentasikan oleh DataTempo.

Yang menarik dari perjalanan Kemal adalah konsistensinya sebagai fotografer Indonesia yang bercerita untuk audiens global, tanpa kehilangan akar lokal ceritanya. Ia membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa di Indonesia — baik krisis politik maupun bencana alam — layak mendapat perhatian dan kedalaman liputan yang sama seperti isu-isu besar dunia lainnya.

Pelajaran Praktis Buat Fotografer Bandung

Fotografer dokumenter lokal bisa menarik pelajaran penting dari jalan karier Kemal. Ketertarikan pada fotografi tidak harus datang dari kecintaan teknis pada kamera sejak awal. Yang lebih menentukan adalah komitmen untuk hadir di tempat yang tepat, dan kesediaan bertahan lebih lama dari fotografer lain di lokasi yang sama.

Beberapa langkah konkret yang bisa dipraktikkan:

  1. Bangun akses ke narasumber dan lokasi lebih dulu, sebelum peristiwa besar terjadi. Kemal memiliki jaringan media internasional yang terbentuk bertahun-tahun sebelum liputan Merapi.
  2. Jangan berhenti di momen pertama. Ikuti perkembangan sebuah peristiwa dari waktu ke waktu, seperti pendekatan Kemal saat memotret rentetan letusan Merapi.
  3. Pahami risiko sebelum mendekat. Kedekatan dengan bahaya harus disertai perhitungan keselamatan yang matang, bukan nekat tanpa perencanaan.

Perjalanan Kemal Jufri menunjukkan bahwa dedikasi terhadap dokumentasi sejarah bisa tumbuh dari mana saja — bahkan dari seseorang yang awalnya tidak tertarik pada kamera sama sekali.


Baca juga profil fotografer lain di seri Photographer Spotlight, atau jelajahi proyek dokumenter kami di The Living Archive.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *