Back

Oscar Motuloh: Fotografi Jurnalistik Sebagai Cara Menjaga Ingatan Bangsa

Ada fotografer yang mengejar momen. Ada juga yang mengejar arti di balik momen itu. Mereka berusaha keras supaya arti itu tidak hilang begitu saja setelah dicetak sekali di koran. Oscar Motuloh masuk kategori kedua.

Oscar lahir di Surabaya pada 17 Agustus 1959. Ia sebenarnya tidak memulai karier sebagai fotografer. Ia bergabung dengan Kantor Berita Antara pada 1988 sebagai reporter tulis. Atasannya kemudian memindahkannya ke divisi foto. Menurut cerita Oscar sendiri, keputusan itu tidak didasari pertimbangan teknis apa pun (detikcom, 2024). Dari situ ia belajar fotografi jurnalistik secara otodidak. Tiga dekade kemudian, namanya menjadi salah satu yang paling dihormati di bidang ini.

Filosofi: Foto Sebagai Simbol, Bukan Sekadar Rekaman

Oscar memperlakukan foto jurnalistik bukan sebagai laporan visual semata. Ia melihatnya sebagai medium yang sarat simbol dan pesan. Inilah yang membedakannya dari banyak pewarta foto lain. Ia memadukan gaya fotografi ala kantor berita Inggris (Reuters) dengan gaya Eropa daratan (AFP). Dari sintesis itu lahir ciri khasnya sendiri: estetis, tapi tetap menyimpan kekuatan naratif dan simbolik.

Gaya ini tidak datang instan. Oscar memotret hampir semua jenis peristiwa selama kariernya. Ia mengabadikan unjuk rasa, turnamen olahraga, pentas seni, upacara seremonial, hingga bencana alam. Namun dari rentang subjek yang luas itu, benang merahnya selalu sama. Ia memperlakukan setiap foto sebagai dokumen sejarah. Dokumen itu punya tanggung jawab moral untuk direkam jujur, bukan sekadar dramatis.

Pendekatan ini relevan buat siapa pun yang bekerja di ranah dokumenter, termasuk proyek-proyek di The Living Archive. Titik berangkatnya bukan “gambar apa yang menarik”. Pertanyaan yang lebih penting adalah “peristiwa apa yang harus diingat, dan bagaimana cara mengingatnya dengan jujur”. Semangat ini juga terasa di proyek kami Guardians of Heritage, yang bicara soal menjaga jejak budaya dari laju modernisasi.

Teknik: Belajar dari Keterbatasan, Bukan dari Kemewahan Referensi

Perjalanan Oscar punya satu bagian yang paling menarik: cara ia belajar di tengah keterbatasan total. Saat ia memulai karier, referensi fotografi jurnalistik nyaris tidak ada. Buku fotografi masih sangat terbatas. Mesin pencari daring belum ada. Arsip nasional pun sulit diakses (detikcom, 2024). Ia memahami komposisi, momen, dan naratif visual dari jam terbang di lapangan, bukan dari kelas atau tutorial. Kami membahas pola belajar serupa dari sudut pandang berbeda di artikel Teknik Candid: Cara Motret Orang Tanpa Terasa Mengganggu.

Dari cara kerja Oscar, ada beberapa hal teknis yang bisa kita tarik:

  • Motret dengan kesadaran arsip. Oscar selalu memikirkan ke mana foto itu akan “pergi” setelah tidak lagi dimuat media. Fotografer di lapangan jarang memikirkan pertanyaan ini saat mengejar tenggat.
  • Jaga konsistensi lintas jenis peristiwa. Oscar tidak membatasi diri pada satu genre. Ia membaca momen di ruang seremonial sama kuatnya dengan di lokasi bencana.
  • Kejar simbol, bukan cuma komposisi rapi. Banyak karyanya kuat karena elemen metaforis di dalam bingkai. Teknis pencahayaan atau framing bukan faktor utamanya.

Warisan: Dari Galeri Sampai Yayasan Arsip

Pada 1992, Oscar memprakarsai berdirinya Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Galeri ini menjadi galeri foto jurnalistik pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara. Ia masih mengelolanya sebagai kurator hingga kini. Enam tahun berselang, ia turut membidani lahirnya Pewarta Foto Indonesia (PFI). Organisasi ini menaungi para pewarta foto di seluruh Indonesia.

Oscar gelisah karena arsip foto sering hilang begitu saja setelah tidak dimuat media. Kegelisahan ini membawanya, bersama sejumlah rekan, mendirikan Yayasan Riset Visual mataWaktu pada 2019. Yayasan ini mengarsipkan, meneliti, dan mempublikasikan karya visual Indonesia. Tujuannya sederhana: generasi fotografer berikutnya tidak perlu mengalami kesulitan referensi yang sama seperti dulu.

Pada 18 September 2019, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menganugerahi Oscar gelar Empu Ageng untuk bidang Fotografi Jurnalistik. Gelar ini setara gelar doktor kehormatan. ISI Yogyakarta memberikannya atas kontribusi Oscar mengembangkan fotografi jurnalistik dan mendidik generasi pewarta foto muda di Indonesia (Kompas.id, 2019).

Pelajaran Praktis Buat Fotografer Bandung

Fotografer dokumenter yang bekerja di skala lokal bisa menarik satu pelajaran inti dari perjalanan Oscar. Ini termasuk mereka yang memotret budaya dan kehidupan sehari-hari di Bandung. Pelajarannya: nilai sebuah foto tidak selesai di hari ia dipotret.

Kami menerapkan prinsip serupa saat menyusun proses riset visual untuk Echoes from the Earth. Berikut beberapa hal yang bisa langsung dipraktikkan:

  1. Bangun sistem pengarsipan sejak awal, bukan setelah proyek selesai. Beri metadata jelas. Simpan versi mentah. Catat konteks di balik setiap frame.
  2. Jangan takut memotret lintas genre. Oscar membuktikan fleksibilitas antara peristiwa seremonial dan bencana. Kepekaan naratif bisa dilatih di mana saja.
  3. Cari makna simbolik, bukan cuma momen dramatis. Pertanyakan apa yang direpresentasikan sebuah adegan. Jangan cuma menilai seberapa kuat visualnya secara sekilas.

Perjalanan Oscar Motuloh membuktikan satu hal. Fotografi jurnalistik dan dokumenter, pada akhirnya, adalah soal tanggung jawab terhadap ingatan kolektif. Semangat ini sangat dekat dengan proyek-proyek seperti Living Archive, yang mendokumentasikan budaya dan kehidupan sehari-hari.


Baca juga profil fotografer lain di seri Photographer Spotlight, atau jelajahi proyek dokumenter kami di The Living Archive.

1 comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *