Back

Todd Hido: Rumah Kosong, Jendela Menyala, dan Kesepian yang Terasa Akrab

Ada satu jenis foto yang begitu lo lihat, langsung berasa familiar. Padahal lo nggak pernah ke tempat itu. Rumah pinggir jalan, gelap, cuma satu jendela yang menyala kuning pucat. Nggak ada orang kelihatan. Tapi entah kenapa, lo langsung ngerasa ada cerita di baliknya. Siapa yang lagi di dalam? Kenapa masih terjaga? Kenapa rumah itu berasa sendirian di tengah kompleks yang sama-sama gelap?

Itulah tanda tangan visual Todd Hido. Ia adalah fotografer asal Kent, Ohio, yang menghabiskan puluhan tahun memotret pinggiran kota Amerika di malam hari. Hasilnya, sesuatu yang terlihat biasa jadi terasa emosional. Kalau lo pernah baca soal gaya fotografi Martin Parr yang menangkap kejujuran lewat warna, Hido punya semangat serupa. Bedanya, ia mencari kejujuran itu di kegelapan malam, bukan di keramaian siang hari.

Dari Skateboard ke Kamera

Hido nggak mulai dari teori fotografi yang berat. Sebaliknya, ia datang ke dunia ini lewat budaya skateboard dan BMX. Di dunia itu, sesuatu yang keren terjadi dalam hitungan detik. Satu-satunya cara menyimpannya adalah dengan merekamnya. Insting itu terbawa terus. Kebiasaan menangkap momen yang cepat berlalu akhirnya membawanya kuliah fotografi di Tufts University, lalu lanjut S2 di California College of Arts and Crafts di bawah bimbingan fotografer Larry Sultan.

Titik baliknya justru datang secara nggak sengaja. Suatu malam, saat menyetir di pesisir barat Amerika, Hido mulai motret rumah-rumah yang ia lewati. Rumah-rumah itu punya satu kesamaan: satu jendela yang lampunya masih nyala. Dari situ, lahirlah serial yang jadi pondasi kariernya, yaitu House Hunting, yang diterbitkan tahun 2001.

Filosofi di Balik Satu Jendela Menyala

Yang bikin karya Hido beda dari sekadar foto arsitektur adalah niatnya. Ia sendiri pernah bilang, rumah-rumah yang ia potret di berbagai kota selalu mengingatkannya pada rumah masa kecilnya di Ohio. Lanskapnya, suasananya, sampai orang-orangnya. Sementara itu, soal jendela yang menyala, buat dia itu bukan sekadar detail teknis. Menurut keterangannya, itu adalah tanda bahwa ada seseorang di dalam sana, meski nggak terlihat.

Di situlah letak kekuatan karyanya. Hido nggak pernah menunjukkan manusia secara langsung. Meski begitu, hampir semua fotonya terasa penuh kehadiran manusia. Dengan kata lain, ia membangun narasi lewat ketiadaan. Rumah kosong yang terasa dihuni. Jalanan sepi yang terasa baru saja dilewati seseorang.

Gaya ini sering dibandingkan dengan lukisan-lukisan Edward Hopper yang penuh isolasi. Bisa juga disandingkan dengan film-film David Lynch yang mengorek sisi gelap di balik kompleks perumahan yang tampak sempurna dari luar. Hido sendiri mengaku terinspirasi Alfred Hitchcock, khususnya soal bagaimana ketegangan bisa dibangun dari sesuatu yang diam dan biasa saja. Bahkan, Aperture menyebut karya-karyanya sebagai “ruang-ruang cahaya dan gelap” yang mengubah rumah biasa jadi semacam kamar renung.

Teknik: Cahaya Alami, Exposure Panjang, Tanpa Rekayasa

Secara teknis, kekuatan Hido justru datang dari kesederhanaan pendekatannya. Ia memotret dengan cahaya yang sudah ada di lokasi, seperti lampu jalan, lampu rumah tetangga, atau cahaya bulan. Nggak ada tambahan lighting atau staging apa pun. Selain itu, dengan long exposure di kamera film analog, ia membiarkan warna-warna malam itu jenuh dengan sendirinya. Kuning natrium dari lampu jalan tua, biru gelap langit senja, oranye hangat dari jendela.

Pendekatan inilah yang bikin karyanya terasa sinematik tanpa harus terlihat dibuat-buat. Semua “drama” dalam fotonya datang dari kesabaran. Kesabaran memilih rumah yang tepat, waktu yang tepat, dan sudut yang tepat, bukan dari manipulasi pasca-produksi.

Pelajaran Buat Kita yang Motret di Jalanan Bandung

Karya Hido punya pelajaran yang relevan banget buat siapa pun yang suka motret suasana kota. Termasuk buat proyek-proyek dokumentasi urban di Bandung:

Lo nggak butuh manusia di frame untuk bikin foto yang terasa manusiawi. Rumah kosong, gang sempit, atau warung yang baru tutup, semua itu bisa jadi jejak kehadiran orang. Bahkan tanpa satu wajah pun terlihat.

Cahaya yang “kurang sempurna” justru sering paling jujur. Hido nggak mengejar golden hour yang ideal. Sebaliknya, ia mengejar lampu jalan yang agak redup, atau cahaya rumah yang bocor lewat gorden. Di Bandung, itu bisa berarti lampu warkop pinggir jalan, sorot motor di gang gelap, atau neon toko yang setengah mati.

Konsistensi tema mengalahkan variasi. Hido menghabiskan bertahun-tahun hanya memotret satu jenis subjek, yaitu rumah malam hari. Justru dari situ, suaranya sebagai fotografer jadi sangat jelas. Dengan kata lain, project visual yang kuat bukan soal seberapa banyak yang lo potret, melainkan seberapa dalam lo menggali satu ide yang sama. Prinsip yang sama juga muncul di metode Daido Moriyama soal kejujuran lewat pengulangan.

Dalam wawancaranya dengan LensCulture, Hido cerita bahwa ia bukan sekadar memotret dunia. Ia memotret bagaimana rasanya berada di dunia itu. Jadi, kalau lo lagi jalan-jalan malam di Bandung dengan kamera di tangan buat proyek The Living Archive, mungkin pertanyaan yang layak ditanya bukan “apa yang menarik untuk difoto.” Melainkan, “apa yang terasa familiar, meski asing.”

Baca spotlight fotografer lain di kategori Photographer Spotlight, atau eksplor cerita visual lainnya di Journal.


Referensi: Aperture, LensCulture, Wikipedia, Madison Museum of Contemporary Art, Huxley-Parlour Gallery

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *