Back

Julian Sihombing: Ikon Foto Reformasi 1998

Ada foto yang mengubah cara sebuah bangsa mengingat satu peristiwa. Julian Sihombing menghasilkan salah satunya. Fotonya tentang mahasiswi Universitas Trisakti yang pingsan di jalanan saat penyerbuan kampus pada 12 Mei 1998 menjadi ikon spiritual Reformasi. Bahkan hingga kini, foto itu terus menyertai perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan otoriter Orde Baru.

Julian bergabung dengan harian Kompas sejak 1987. Ia lulusan Universitas Indonesia. Sepanjang kariernya, ia meliput rentang topik yang sangat luas: mulai dari perubahan politik era Reformasi, hingga kegiatan resmi di Istana Negara. Karena rekam jejak inilah, ia dikenal sebagai pekerja kreatif dan ulet di lapangan.

Filosofi: Membaca Momen Sebelum Momen Itu Terjadi

Fotografer lain jarang punya kebiasaan berpikir seperti Julian: ia selalu membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menurut rekannya, fotografer Arbain Rambey, prinsip inilah yang menjadi fondasi kerja Julian di lapangan. Dengan prinsip itu, ia berani mengambil posisi tak biasa demi mendapat sudut pandang terbaik.

Salah satu contohnya terjadi saat kebakaran di Markas Besar Polri. Saat itu, Julian memilih naik ke gedung PLN di sekitarnya untuk mendapat sudut pengambilan yang lebih kuat. Akibatnya, ia harus mengorbankan kameranya sendiri: kamera Nikon F4 miliknya jatuh dan menimpa beton bersama lensa 20mm yang terpasang. Dari situ terlihat jelas bahwa keberanian mengambil risiko demi posisi terbaik menjadi ciri khasnya sepanjang karier.

Cara berpikir Julian relevan buat siapa pun yang bekerja di ranah dokumenter, termasuk proyek jangka panjang seperti The Living Archive. Sebab, fotografer yang baik tidak menunggu momen terjadi. Sebaliknya, ia memposisikan diri di tempat yang tepat sebelum momen itu muncul.

Teknik: Sentuhan Artistik di Tengah Tekanan Deadline

Julian dikenal berbeda dari banyak pewarta foto sezamannya. Pada umumnya, generasi seangkatannya berkembang secara otodidak tanpa banyak referensi. Namun, Julian justru sadar mengembangkan dirinya secara maksimal lewat bacaan dan referensi yang ia telaah dengan teliti. Menurut sahabatnya, Oscar Motuloh, gaya pemotretan Julian adalah refleksi langsung dari kedalaman referensi yang ia baca.

Karena itu, Julian menyajikan karya jurnalistik dengan sentuhan artistik yang jarang muncul di foto berita harian. Fotonya tidak hanya melaporkan kejadian, tetapi juga membalut kejadian itu dengan komposisi yang lebih hidup dan enak dilihat.

Berikut beberapa pelajaran teknis dari cara kerja Julian:

  • Bayangkan kelanjutan sebuah peristiwa. Julian selalu memikirkan “apa yang akan terjadi selanjutnya”, bukan hanya merekam apa yang sedang terjadi di depan mata.
  • Cari posisi ekstrem kalau perlu. Sebab, kesediaannya naik ke gedung berbahaya demi satu sudut pandang menunjukkan bahwa posisi kamera sering lebih penting dari peralatan itu sendiri.
  • Bangun sentuhan artistik lewat referensi, bukan insting semata. Ketelitiannya membaca referensi visual membedakan hasil karyanya dari sekadar dokumentasi teknis.
  • Kuasai lebih dari satu genre. Selain itu, Julian dikenal sebagai master foto olahraga sekaligus pewarta foto politik paling berpengaruh di zamannya.

Warisan: Inspirasi Lintas Generasi

Menjelang akhir kariernya, Julian menjadi editor foto senior di Kompas. Di posisi itu, ia membina generasi pewarta foto baru yang kemudian meneruskan tongkat estafet setelahnya. Bahkan, Arbain Rambey secara terbuka mengakui bahwa kariernya di dunia foto tidak akan terjadi tanpa pengaruh Julian.

Julian meninggal dunia pada 14 Oktober 2012 di Singapura akibat kanker getah bening. Sepeninggalnya, sahabat-sahabatnya di Galeri Foto Jurnalistik Antara menerbitkan buku foto kedua berjudul “Julian Sihombing Remastered Edition” pada 15 Januari 2013, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-54. Satu dekade kemudian, Kompas.id menulis bahwa karya-karyanya tetap menjadi taman inspirasi bagi generasi baru fotografer jurnalistik Indonesia.

Pelajaran Praktis Buat Fotografer Bandung

Fotografer dokumenter lokal bisa menarik pelajaran penting dari cara kerja Julian. Memang, insting di lapangan itu penting. Namun, fotografer perlu mengasah insting itu lewat referensi yang ia baca dengan sungguh-sungguh, bukan membiarkannya berkembang sendiri secara otodidak tanpa arah.

Berikut beberapa langkah konkret yang bisa dipraktikkan:

  1. Latih kemampuan memprediksi kelanjutan sebuah peristiwa. Sebelum memotret, tanyakan pada diri sendiri apa yang mungkin terjadi setelah momen ini.
  2. Jangan puas dengan sudut pandang yang aman. Sebaliknya, pertimbangkan posisi lain yang lebih berisiko jika itu memberi hasil yang jauh lebih kuat.
  3. Rawat kebiasaan membaca dan riset visual. Sebab, referensi yang kaya membentuk gaya personal yang lebih matang dibanding sekadar mengandalkan insting lapangan.

Pada akhirnya, perjalanan Julian Sihombing membuktikan bahwa fotografi jurnalistik terbaik lahir dari perpaduan keberanian fisik di lapangan dan kedalaman intelektual di baliknya.


Baca juga profil fotografer lain di seri Photographer Spotlight, atau jelajahi proyek dokumenter kami di The Living Archive.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *