Kebanyakan orang belajar motret dengan satu aturan dasar: foto harus tajam. Fokus harus pas. Shutter speed harus cukup cepat biar nggak blur. Tapi ada satu fotografer yang justru membalik aturan itu. Baginya, blur bukan kesalahan. Blur adalah bahasa.
Namanya Ernst Haas, fotografer kelahiran Wina yang jadi salah satu anggota awal Magnum Photos. Ia dikenal sebagai pionir fotografi warna di era ketika dunia fotografi serius masih didominasi hitam putih. Kalau lo udah baca soal Todd Hido yang bermain dengan cahaya redup di malam hari, Haas ada di ujung spektrum yang berlawanan. Ia mengejar warna paling jenuh, gerakan paling dinamis, dan energi kota di siang bolong.
Dari Wina yang Kelabu ke New York yang Meledak Warna
Haas tumbuh di Wina pada masa Perang Dunia II. Masa itu penuh warna abu-abu, baik secara harfiah maupun emosional. Setelah perang usai, ia justru melihat warna sebagai simbol harapan baru. Baginya, memotret dengan warna adalah cara merayakan era baru setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kelabu.
Titik baliknya terjadi saat ia pindah ke New York pada 1950-an. Di sana, ia jadi salah satu fotografer pertama yang serius mengeksplorasi film warna. Padahal saat itu, warna masih dianggap medium komersial, bukan seni. Namun, Haas nggak peduli. Ia justru memakai jalanan New York, lampu neon, dan pantulan hujan di aspal sebagai kanvas eksperimennya.
Filosofi: “Saya Tidak Mengambil Foto, Saya Membuat Foto”
Haas punya satu kalimat yang sering dikutip: ia tidak sekadar mengambil gambar, ia membuat gambar. Kalimat itu ringkas, tapi menyimpan filosofi besar. Menurutnya, kamera cuma alat. Yang menentukan sebuah foto jadi kuat adalah niat dan emosi di baliknya, bukan sekadar ketepatan teknis.
Ia juga percaya bahwa fotografi seharusnya nggak melulu soal dokumentasi objektif. Sebaliknya, foto adalah ekspresi dari kesan pribadi. Karena itu, Haas kerap memilih fokus longgar, depth of field dangkal, dan overexposure yang disengaja. Semua demi satu tujuan: membuat penonton merasakan momen, bukan cuma melihatnya.
Filosofi ini bikin karyanya sering disandingkan dengan lukisan, bukan foto biasa. Menurut John Szarkowski dari MoMA, Haas berhasil membuat warna itu sendiri jadi subjek utama karyanya, bukan sekadar elemen dekoratif di atas gambar.
Teknik: Motion Blur yang Disengaja
Salah satu tanda tangan visual Haas adalah intentional camera movement, atau ICM. Ia sengaja memakai shutter speed lambat, lalu menggerakkan kameranya saat memotret. Hasilnya, subjek yang tadinya diam jadi terasa bergerak. Burung yang terbang, matador yang berlari, atau lalu lintas kota berubah jadi sapuan warna yang mirip lukisan cat air.
Menurutnya sendiri, menangkap gerak dalam satu momen statis itu terasa terbatas. Ia justru ingin penonton merasakan sesuatu yang lebih mirip melodi, bukan satu nada tunggal. Dengan kata lain, ia ingin fotonya dirasakan seperti musik: sebuah alur, bukan potongan waktu yang beku.
Teknik ini butuh keberanian. Nggak ada jaminan hasilnya bagus. Kadang blur-nya kebablasan, kadang komposisinya berantakan. Tapi justru dari ketidakpastian itulah, karya-karya terbaik Haas lahir.
Pelajaran Buat Fotografer Jalanan di Bandung
Ada beberapa hal dari pendekatan Haas yang bisa langsung dicoba di jalanan Bandung:
Jangan takut sama blur. Coba turunkan shutter speed saat motret lalu lintas malam di Jalan Braga atau Asia Afrika. Gerakan lampu motor yang memanjang bisa jadi elemen visual yang lebih kuat daripada foto tajam biasa.
Warna bisa jadi subjek, bukan cuma latar. Alih-alih cuma motret objek, coba fokus ke bagaimana warna itu sendiri bercerita. Merah lampu warung, hijau lumut tembok tua, kuning lampu jalan — semua itu bisa jadi “karakter” dalam foto, bukan sekadar background.
Eksperimen itu bagian dari proses, bukan penyimpangan. Haas nggak pernah menuliskan manifesto resmi soal gayanya. Ia cuma terus mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Pendekatan serupa ini juga muncul di gaya fotografi Martin Parr yang berani main-main dengan warna mencolok tanpa takut dibilang “berlebihan”.
Haas pernah bilang, kamera tidak membuat keputusan emosional. Fotografer-lah yang membuatnya. Jadi, lain kali lo motret suasana kota untuk proyek The Living Archive, coba tanya ke diri sendiri: apakah lo cuma merekam apa yang terlihat, atau benar-benar merasakannya?
Baca spotlight fotografer lain di kategori Photographer Spotlight, atau eksplor cerita visual lainnya di Journal.
Referensi: ProEDU, About Photography, The Independent Photographer, Progressive Street, Dodho




