Back

Garry Winogrand: “Saya Motret Buat Lihat Hasilnya Kayak Apa”

Banyak fotografer jalanan punya alasan besar di balik karyanya. Mau menyuarakan isu sosial. Mau bercerita soal kemanusiaan. Mau mengabadikan momen bersejarah. Namun, Garry Winogrand punya jawaban yang jauh lebih sederhana. Ketika ditanya kenapa ia motret, jawabannya cuma satu kalimat pendek: ia motret untuk melihat seperti apa hasilnya kalau difoto.

Kalimat itu terdengar sepele. Padahal, justru dari situlah lahir salah satu filosofi fotografi jalanan paling berpengaruh di abad ke-20. Kalau lo udah baca soal Saul Leiter yang mengejar keindahan lewat ketidakjelasan, Winogrand justru ada di jalur yang berlawanan. Baginya, kekacauan, energi, dan kepadatan visual jalanan New York apa adanya adalah daya tarik utama.

Anak Bronx yang Jadi Legenda Jalanan

Winogrand lahir tahun 1928 di Bronx, New York, dari keluarga imigran kelas pekerja asal Budapest dan Warsawa. Latar belakang ini penting untuk dipahami. Alih-alih tumbuh dari lingkungan seni elit, ia justru dibesarkan di jalanan kota yang keras dan padat, tempat yang kelak jadi panggung utama karyanya.

Kariernya melejit setelah karyanya masuk pameran Five Unrelated Photographers di MoMA pada 1963. Tiga tahun kemudian, kurator John Szarkowski memasukkan karyanya ke pameran New Documents, bersama Diane Arbus dan Lee Friedlander. Pameran itu mengubah arah wacana fotografi dokumenter, dari yang tadinya objektif jadi lebih personal dan subjektif.

Filosofi: Foto Itu Cuma Soal Dirinya Sendiri

Inti filosofi Winogrand terletak pada satu keyakinan: foto bukan tentang subjek yang difoto, dan bukan juga tentang motivasi fotografernya. Menurutnya, foto adalah objek yang berdiri sendiri. Dalam salah satu penjelasannya, persoalan utama fotografi adalah bagaimana empat sisi bingkai bisa mengubah sekumpulan informasi jadi sesuatu yang baru.

Pandangan ini bikin karyanya sering disalahpahami sebagai “cuma snapshot” tanpa makna dalam. Padahal, justru di situlah kekuatannya. Winogrand nggak mencoba mendikte penonton harus merasa apa. Sebaliknya, kepadatan visual dalam fotonya dibiarkan berbicara sendiri, penuh dengan detail yang bisa ditafsirkan ulang setiap kali dilihat.

Selain itu, ia dikenal sangat produktif, memotret dengan intensitas yang nyaris obsesif. Bahkan saat meninggal tahun 1984, ada lebih dari 300.000 frame film yang belum sempat dicuci. Baginya, proses memotret itu sendiri sudah jadi tujuan, bukan cuma alat untuk menghasilkan gambar akhir.

Teknik: Lensa Lebar, Bingkai Miring, Ritme Cepat

Secara visual, karya Winogrand gampang dikenali lewat tiga ciri khas. Pertama, lensa wide-angle jadi pilihan utamanya. Dengan lensa ini, fotonya jadi penuh detail di seluruh frame, bukan cuma fokus di satu subjek.

Kedua, komposisinya sering miring, yang di dunia fotografi disebut skewed framing. Daripada menjaga garis horizon lurus, kamera sengaja dimiringkan. Hasilnya, fotonya terasa dinamis, seolah-olah momen itu sedang bergerak cepat, bukan diam beku.

Ketiga, ritme motretnya sangat cepat, dengan jumlah bidikan yang sangat banyak. Berkat pendekatan ini, detail-detail kecil yang biasanya luput dari fotografer yang lebih hati-hati dan selektif berhasil tertangkap.

Pelajaran Buat Fotografer Jalanan di Bandung

Ada beberapa pelajaran dari Winogrand yang bisa langsung dipraktikkan di jalanan Bandung:

Nggak semua foto butuh alasan besar. Kadang, motret aja dulu, baru cari maknanya belakangan. Pendekatan ini bisa jadi cara bagus buat lo yang sering “macet” mikir konsep sebelum turun ke jalan.

Keramaian bisa jadi kekuatan, bukan gangguan. Daripada menghindari elemen yang “mengganggu” komposisi, coba biarkan kepadatan visual pasar, angkot, atau trotoar Bandung masuk penuh ke dalam frame. Prinsip ini sejalan dengan apa yang gue bahas soal filosofi Raghu Rai, yang juga percaya kekacauan jalanan bisa jadi sumber jiwa dalam sebuah foto.

Kuantitas kadang membuka jalan ke kualitas. Winogrand memotret dalam jumlah masif. Buat proyek The Living Archive, ini bisa berarti nggak usah terlalu selektif saat motret di lapangan. Sebaliknya, proses menyeleksi bisa dilakukan belakangan, saat bahan mentah sudah cukup banyak untuk dipilah.

Winogrand nggak pernah menulis manifesto tebal soal fotografi. Sebaliknya, ia cuma terus memotret, hari demi hari, sampai jutaan frame. Mungkin, itulah pelajaran paling sederhana sekaligus paling sulit ditiru: kadang, cara terbaik untuk memahami sesuatu adalah dengan terus melakukannya, bukan terus memikirkannya.

Baca spotlight fotografer lain di kategori Photographer Spotlight, atau eksplor cerita visual lainnya di Journal.


Referensi: Denver Art Museum, Encyclopedia.com, Adorama ALC, John Paul Caponigro

1 comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *