Kebanyakan fotografer jalanan berburu momen yang jelas. Wajah yang ekspresif, gestur yang tegas, komposisi yang bersih. Tapi Saul Leiter justru senang dengan yang sebaliknya. Ia suka memotret lewat kaca yang berembun. Ia suka membiarkan payung menutup separuh wajah subjeknya. Baginya, ketidakjelasan bukan masalah. Ketidakjelasan adalah daya tarik utama.
Leiter lahir di Pittsburgh pada 1923, lalu pindah ke New York di akhir 1940-an. Awalnya, ia ingin jadi pelukis, bukan fotografer. Latar belakang itu ternyata jadi kunci gayanya kelak. Kalau lo udah baca soal Ernst Haas yang mengejar warna lewat gerakan, Leiter mengejar warna lewat cara yang jauh lebih tenang: lewat pantulan, kabut, dan lapisan visual yang berlipat-lipat.
Dari Calon Rabi ke Fotografer Mode New York
Leiter sebenarnya dibesarkan untuk jadi rabi, mengikuti jejak ayahnya. Namun, panggilan seni terlalu kuat untuk diabaikan. Ia akhirnya meninggalkan studi keagamaannya dan pindah ke New York demi mengejar seni lukis dan fotografi.
Di New York, Leiter sempat menjadi fotografer mode untuk majalah besar seperti Esquire dan Harper’s Bazaar. Pekerjaan itu memberinya penghasilan. Namun, karya personalnya yang justru paling berpengaruh malah nyaris nggak dikenal selama puluhan tahun. Ia baru mendapat pengakuan luas di awal 2000-an, saat arsip fotonya ditemukan kembali dan dipamerkan ulang.
Filosofi: Keindahan Ada di Hal yang Nggak Pasti
Leiter pernah bilang, ia menyukai saat seseorang nggak sepenuhnya yakin apa yang sedang dilihatnya. Baginya, kesempurnaan itu nggak menarik. Justru sedikit kebingungan adalah bahan yang ia cari.
Filosofi ini terasa banget di karyanya. Ia sering memotret lewat jendela berembun, di balik payung, atau lewat pantulan kaca toko. Semua elemen itu sengaja dipakai untuk mengaburkan subjek utama. Dengan kata lain, ia nggak pernah berusaha menunjukkan segalanya secara gamblang. Sebaliknya, ia membiarkan penonton menebak dan merasakan sendiri.
Leiter juga dikenal karena sikapnya yang rendah hati soal karya. Ia nggak pernah punya manifesto besar soal fotografi. Ia cuma jalan-jalan dan memotret apa pun yang menarik perhatiannya di lingkungan sekitarnya sendiri, terutama East Village tempat ia tinggal bertahun-tahun.
Teknik: Refleksi, Frame dalam Frame, dan Film Kedaluwarsa
Secara teknis, ada tiga kebiasaan khas Leiter yang bikin karyanya gampang dikenali. Pertama, ia gemar memakai reflection sebagai elemen komposisi. Kaca jendela toko, genangan air, atau permukaan mengkilap sering ia manfaatkan untuk menumpuk dua dunia jadi satu frame.
Kedua, ia sering memakai objek di depan lensa sebagai bingkai tambahan. Payung, tiang, atau siluet orang lain sengaja dibiarkan menutupi sebagian frame. Teknik ini dikenal sebagai “frame dalam frame”, dan bikin fotonya terasa berlapis, mirip lukisan.
Ketiga, ia sengaja memakai film kedaluwarsa. Warna yang dihasilkan jadi nggak terduga, kadang pudar, kadang bergeser ke tone tertentu. Ketidakpastian warna ini justru memperkuat mood melankolis di banyak karyanya.
Pelajaran Buat Fotografer Jalanan di Bandung
Ada beberapa hal dari pendekatan Leiter yang relevan buat konteks jalanan Bandung:
Coba motret lewat penghalang. Kaca angkot yang berembun, gorden warung yang setengah tertutup, atau uap dari gorengan pinggir jalan bisa jadi elemen “frame dalam frame” yang bikin foto terasa lebih hidup daripada subjek yang difoto polos.
Nggak semua foto harus menjelaskan segalanya. Kadang, foto yang paling nempel di ingatan justru yang bikin penonton penasaran, bukan yang paling informatif. Prinsip ini sejalan dengan apa yang gue bahas soal Daido Moriyama, yang juga percaya bahwa foto “kurang sempurna” bisa lebih jujur.
Motret lingkungan sekitar sendiri, bukan cuma tempat “menarik”. Leiter menghabiskan puluhan tahun memotret satu lingkungan yang sama, East Village. Buat proyek The Living Archive, pendekatan ini bisa berarti terus kembali ke satu gang atau satu sudut kota yang sama, sampai lo benar-benar mengenalnya.
Leiter meninggal pada 2013, tapi pengaruhnya makin terasa justru setelah itu. Ia membuktikan bahwa keindahan nggak selalu butuh kejelasan. Kadang, yang setengah tersembunyi justru lebih jujur daripada yang terpampang penuh.
Baca spotlight fotografer lain di kategori Photographer Spotlight, atau eksplor cerita visual lainnya di Journal.
Referensi: ProEDU, About Photography, 121Clicks, Eric Kim Photography, Analogue Shop





1 comment